Sejarah
pendirian PPLH berawal dari keprihatinan para aktifis lingkungan
terhadap kerusakan hutan habitat orang utan di Gunung Leuzer, Sumatera
Utara. Mereka khawatir bila kondisi itu tidak diatasi maka populasi
orang utan yang ada di daerah tersebut akan punah. Bersama Dirjen
Kehutanan dan WWF, para aktifis itu kemudian membuat proyek rehabilitasi
hutan gunung Leuser itu. Berkat kegigihan dan kerja sama yang baik,
akhirnya orang utan di sana dapat diselamatkan. Dari kegiatan tersebut,
mereka menyimpulkan bahwa kerusakan hutan itu lebih disebabkan ulah
manusia.
Untuk menindaklanjuti kegiatan ini, pada tanggal 12 Januari 1978 para
aktifis lungkungan membentuk Yayasan Indonesia Hijau yang bergerak di
bidang pendidikan lingkungan. Mulai tahun 1980-an para aktivis
lingkungan yayasan yang berpusat di Bogor ini gencar mengadakan
pendidikan lingkungan ke sekolah-sekolah, ormas dan masyarakat umum.
Sayangnya, hasil pendidikan yang dilakukan secara berkeliling ini tidak
maksimal karena kuantitas pertemuanya sangat sedikit. “Bayangkan,
seorang siswa hanya mendapat kesempatan bertemu dengan kami sekali
seumur hidup. Itupun hanya dua jam. Bagaimana mungkin mengharapkan dia
bisa mempunyai pengetahuan dan kesadaran yang mendalam dengan pola
pendidikan semacam itu.
Belajar dari pengalaman itulah, beberapa aktifis YIH melontarkan ide untuk membuat tempat yang permanen di tepi hutan yang berfungsi sebagai tempat pendidikan lingkungan. Mereka berharap dengan tersedianya tempat yang representatif, pendidikan lingkungan bisa dilakukan secara intensif. Siswa-siswa sekolah atau masyarakat umum bisa datang ke tempat itu setiap saat untuk belajar sambil refreshing.
Pada
tahun 1985 Suryo mendapat kesempatan memandu beberapa tamu WWF yang
berkunjung ke Indonesia. Mereka melakukan peninjauan lapangan ke
berbagai tempat untuk melihat bagaimana program pelestarian alam
dilakukan di Indonesia. Pada kesempatan itulah Suryo menceritakan
tentang kegiatan pendidikan lingkungan yang dilakukannya bersama YIH.
Para staf WWF ini ternyata tertarik pula untuk melihat langsung kegiatan
tersebut. Merekapun datang ke beberapa sekolah untuk melihat langsung
jalannya pendidikan. Mereka nampaknya terkesan dengan antusiasme para
siswa dan mendorong upaya-upaya ini terus dikembangkan dan dilakukan.
Pada
kesempatan yang sama, Suryo mendiskusikan dengan mereka tentang
berbagai kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program itu dan
keinginannya mendirikan pusat pendidikan lingkungan hidup. Para staf WWF
berjanji akan membantu asalkan mereka bisa diyakinkan bahwa program ini
bisa dikelola secara mandiri. Mereka meragukan gagasan itu bisa
direalisir karena program serupa yang sebelumnya pernah dikelola oleh
pemerintah tidak ada yang berjalan dengan baik. Karena itulah, mereka
meminta Suryo membuat proposal yang dilengkapi dengan planing
pengembangan, program-program yang akan dilakukan, sketsa atau rancangan
bangunan, serta anggaran pembangunannya. Suryo juga diminta untuk
membentuk kepanitiaan kecil yang bertugas menyiapkan pendirian dan
pengembangan lembaga tersebut.
Setelah
melalui diskusi dan perdebatan panjang, Suryo akhirnya bisa meyakinkan
WWF Internasional bahwa dirinya bersama YIH siap mendirikan dan
mengelola pusat pendidikan lingkungan itu. Pada tahun 1988 WWF memenuhi
komitmennya dengan memberi bantuan Rp.150 juta untuk membantu
pembangunan PPLH itu. Bersama staf YIH, Suryo kemudian melakukan survey
lapangan untuk mencari daerah yang cocok bagi pendirian PPLH. Setelah
melakukan survey di beberapa daerah sekitar Jakarta dan Bogor, mereka
menyimpulkan tidak mungkin membangun sebuah pusat pendidikan dengan dana
sekecil itu. Mereka akhirnya memilih daerah Seloliman di Mojokerto,
Jawa Timur, sebagai lokasi pendirian PPLH.
Proyek
pembangunan PPLH dimulai pada pertengahan 1988. Dari Rp.150 juta dana
yang diberikan oleh WWF, Rp.90 juta digunakan untuk membeli tanah seluas
3,7 hektar. Di atas lokasi itu kemudian dibangun ruang seminar,
restoran, dan bangunan depan yang menghabiskan biaya Rp. 50 juta.
Rancangan arsitektur komplek PPLH ini dirancang oleh Hans Ulrich Fuhrke,
seorang arsitek berkebangsaan Jerman yang kemudian menjadi wakil Suryo
di kepengurusan PPLH. Sisa dananya digunakan untuk membiayai program dan
kegiatan PPLH. Selain bantuan WWF, PPLH juga menerima bantuan dari
beberapa lembaga. Misalnya, kedubes Inggris memberikan bantuan buku-buku
untuk perpustakaan, tungku hemat energi dari Universitas Petra
Surabaya, tanaman obat-obatan dari masyarakat, dll. “Selama proses
pembangunan berlangsung, kegiatan pendidikan tetap jalan. Kita pindahkan
pendidikan di sekolah di sekolah-sekolah itu ke lokasi pembangunan PPLH
sembari mensosialisasikan proyek ini ke masyarakat,”
Pada
tanggal 15 Mei 1990, PPLH dibuka secara resmi oleh Pangeran Bernhard
dari Belanda. Presiden WWF ini hadir di Seloliman atas lobi dan
pendanaan dari beberapa lembaga dan pengusaha Belanda. “Kita memang
habis-habisan melobi mereka untuk membantu mendatangkan Prince Bernhard.
Kita beranggapan bahwa kehadiran tokoh lingkungan internasional ini
penting untuk membangun kepercayaan dari dalam maupun luar negeri.
Kedatangan ketua WWF ini menjadi selling point bagi kita dalam mengembangkan lembaga ataupun melakukan fund raising.”
Kehadiran
petinggi WWF itu memang berpengaruh dalam meraih perhatian dan simpati
dari dunia internasional terhadap eksistensi PPLH yang baru berdiri.
Begitu lembaga ini beroperasi, dukungan dari masyarakat, khususnya luar
negeri, cukup banyak. Beberapa negara sahabat, seperti Jerman, Belanda,
Perancis, Amerika dan Australia menaruh perhatian besar terhadap
perkembangan lembaga ini. Mereka senang Indonesia sudah berbuat sesuatu
untuk mendidik tentang kelestarian lingkungan.
Mulai
saat itu PPLH sering dikunjungi oleh ahli-ahli lingkungan dari luar
negeri. Banyak diantara mereka yang menyumbangkan pikiran dan
keahliannya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di PPLH. Beberapa
duta besar negara sahabat juga bersedia datang dan memberikan komitmen
pribadi atau kelembagaan untuk membantu PPLH. Bantuan mereka itu
diwujudkan dalam bentuk pembangunan sarana dan fasilitas pendukung
seperti laboratorium, perpustakaan, rumah kaca, bungalow dan lain
sebagainya.
Memasuki
tahun 1991 upaya pengembangan lembaga secara mandiri mulai dilakukan.
PPLH mulai menawarkan paket-paket program ke berbagai sekolah, instansi,
LSM, organisasi massa dan masyarakat umum. Promosi tentang eksistensi
lembaga dan program-program yang dikelola juga mulai dilakukan dengan
mengundang para aktifis lingkungan lokal dan internasional, dubes asing,
dan masyarakat umum untuk berkunjung ke PPLH. Upaya-upaya semacam ini
dimungkinkan karena PPLH sudah memiliki kurikulum dan sarana pendidikan
serta tempat menginap yang memadai. Mulai tahun 1992 tamu yang datang ke
PPLH meningkat tajam sehingga lembaga ini sudah bisa menutupi cost
operasionalnya dari kontribusi yang diberikan oleh para pengunjung.
“Kita tetapkan penawaran paket-paket program sebagai basis kita dalam
melaksanakan visi lembaga sekaligus upaya fund raising.
Keberhasilan
pengelolaan PPLH di Seloliman ini rupanya memancing minat pihak lain
untuk mendirikan PPLH di daerah lain. Pada tahun 1998 beberapa staf PPLH
Seloliman memotori pendirian PPLH di Sanur, Bali. Beberapa bulan
kemudian, para aktifis lingkungan di Sulawesi Selatan tepatnya di Dusun
Putondo dibantu staf PPLH Seloliman juga mendirikan lembaga serupa.
PPLH Seloliman sendiri kemudian mengembangkan programnya dengan
mendirikan Urban Centre di Surabaya sebagai tempat kajian berbagai
persoalan di perkotaan.
“Berdirinya
lembaga-lembaga itu sebenarnya di luar rencana pengembangan. Namun,
banyak orang, termasuk mantan menteri negara Lingkungan Hidup Sarwono
Kusumaatmaja, yang berharap lembaga semacam ini bisa dikembangkan di
daerah lain. Walau punya nama yang sama, tidak berarti kami dikelola
oleh manajemen yang sama. Pengelolaan ketiga lembaga itu dilakukan
secara terpisah oleh manajemen yang berbeda. Kita hanya punya
keterkaitan sejarah sebagai salah satu elemen yang ikut membidani
kelahiran mereka. Kita juga punya spirit, program dan komitmen yang sama
untuk saling membantu antar lembaga dalam pengembangan pendidikan
lingkungan di Indonesia. Sampai saat ini, kita masih memperdebatkan dan
merumuskan pola hubungan dan kerja sama antara PPLH di Seloliman dengan
PPLH didaerah lain.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar