Kabupaten Mojokerto, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia kota Mojokerto. Kabupaten
ini berbatasan denganKabupaten Lamongan dan Kabupaten Gresik di utara,
Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Pasuruan di timur, Kabupaten Malang dan
Kota Batu di selatan, serta Kabupaten Jombang di barat.
Kabupaten Mojokerto terdiri atas 18 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Kini banyak gedung dan kantor pemerintahan yang dipindahkan ke Kota Mojosari, sebelah timur Kota Mojokerto.
Bagian selatan Kabupaten Mojokerto berupa pegunungan, dengan puncak Gunung Welirang (3.156 m) dan Gunung Anjasmoro (2.277 m).
Kabupaten Mojokerto terdiri atas 18 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Kini banyak gedung dan kantor pemerintahan yang dipindahkan ke Kota Mojosari, sebelah timur Kota Mojokerto.
Bagian selatan Kabupaten Mojokerto berupa pegunungan, dengan puncak Gunung Welirang (3.156 m) dan Gunung Anjasmoro (2.277 m).
sejarah
Setelah raja S’ri Kerta-negara gugur, kerajaan Singhasa-ri berada di
bawah kekuasaan raja Jayakatwang dari Kadiri. Salah satu keturunan
penguasa Singhasa-ri, yaitu Raden Wijaya, kemudian berusaha merebut
kembali kekuasaan nenek moyangnya. Ia adalah keturunan Ken Angrok, raja
Singha-sa-ri pertama dan anak dari Dyah Le(mbu Tal. Ia juga dikenal
dengan nama lain, yaitu Nararyya Sanggramawijaya. Menurut sumber
sejarah, Raden Wijaya sebenarnya adalah mantu Ke(rtana-gara yang masih
terhitung keponakan. Kitab Pararaton menyebutkan bahwa ia mengawini dua
anak sang raja sekaligus, tetapi kitab Na-garakerta-gama menyebutkan
bukannya dua melainkan keempat anak perempuan Ke(rtana-gara dinikahinya
semua. Pada waktu Jayakatwang menyerang Singhasa-ri, Raden Wijaya
diperintahkan untuk mempertahankan ibukota di arah utara. Kekalahan yang
diderita Singhasa-ri menyebabkan Raden Wijaya mencari perlindungan ke
sebuah desa bernama Kudadu, lelah dikejar-kejar musuh dengan sisa
pasukan tinggal duabelas orang. Berkat pertolongan Kepala Desa Kudadu,
rombongan Raden Wijaya dapat menyeberang laut ke Madura dan di sana
memperoleh perlindungan dari Aryya Wiraraja, seorang bupati di pulau
ini. Berkat bantuan Aryya Wiraraja, Raden Wijaya kemudian dapat kembali
ke Jawa dan diterima oleh raja Jayakatwang. Tidak lama kemudian ia
diberi sebuah daerah di hutan Te(rik untuk dibuka menjadi desa, dengan
dalih untuk mengantisipasi serangan musuh dari arah utara sungai
Brantas. Berkat bantuan Aryya Wiraraja ia kemudian mendirikan desa baru
yang diberi nama Majapahit. Di desa inilah Raden Wijaya kemudian
memimpin dan menghimpun kekuatan, khususnya rakyat yang loyal terhadap
almarhum Kertanegara yang berasal dari daerah Daha dan Tumapel. Aryya
Wiraraja sendiri menyiapkan pasukannya di Madura untuk membantu Raden
Wijaya bila saatnya diperlukan. Rupaya ia pun kurang menyukai raja
Jayakatwang.
Tidak terduga sebelumnya bahwa pada tahun 1293 Jawa kedatangan pasukan
dari Cina yang diutus oleh Kubhilai Khan untuk menghukum Singhasa-ri
atas penghinaan yang pernah diterima utusannya pada tahun 1289. Pasukan
berjumlah besar ini setelah berhenti di Pulau Belitung untuk beberapa
bulan dan kemudian memasuki Jawa melalui sungai Brantas langsung menuju
ke Daha. Kedatangan ini diketahui oleh Raden Wijaya, ia
meminta izin untuk bergabung dengan pasukan Cina yang diterima dengan
sukacita. Serbuan ke Daha dilakukan dari darat maupun sungai yang
berjalan sengit sepanjang pagi hingga siang hari. Gabungan pasukan Cina
dan Raden Wijaya berhasil membinasakan 5.000 tentara Daha. Dengan
kekuatan yang tinggal setengah, Jayakatwang mundur untuk berlindung di
dalam benteng. Sore
hari, menyadari bahwa ia tidak mungkin mempertahankan lagi Daha,
Jayakatwang keluar dari benteng dan menyerahkan diri untuk kemudian
ditawan oleh pasukan Cina.
Dengan dikawal dua perwira dan 200 pasukan Cina, Raden Wijaya minta izin
kembali ke Majapahit untuk menyiapkan upeti bagi kaisar Khubilai Khan.
Namun dengan menggunakan tipu muslihat kedua perwira dan para
pengawalnya berhasil dibinasakan oleh Raden Wijaya. Bahkan ia berbalik
memimpin pasukan Majapahit menyerbu pasukan Cina yang masih tersisa yang
tidak menyadari bahwa Raden Wijaya akan bertindak demikian. Tiga ribu
anggota pasukan kerajaan Yuan dari Cina ini dapat dibinasakan oleh
pasukan Majapahit, selebihnya melarikan dari keluar Jawa dengan
meninggalkan banyak korban. Akhirnya cita-cita Raden Wijaya untuk
menjatuhkan Daha dan membalas sakit hatinya kepada Jayakatwang dapat
diwujudkan dengan memanfaatkan tentara asing. Ia kemudian
memproklamasikan berdirinya sebuah kerajaan baru yang dinamakan
Majapahit. Pada tahun 1215 Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja pertama
dengan gelar S’ri Ke(rtara-jasa Jayawardhana. Keempat anak Kertanegara
dijadikan permaisuri dengan gelar S’ri Parames’wari Dyah Dewi
Tribhu-wanes’wari, S’ri Maha-dewi Dyah Dewi Narendraduhita-, S’ri
Jayendradewi Dyah Dewi Prajnya-paramita-, dan S’ri Ra-jendradewi Dyah
Dewi Gayatri. Dari Tribhu-wanes’wari ia memperoleh seorang anak laki
bernama Jayanagara sebagai putera mahkota yang memerintah di Kadiri.
Dari Gayatri ia memperoleh dua anak perempuan, Tribhu-wanottunggadewi
Jayawisnuwardhani yang berkedudukan di Jiwana (Kahuripan) dan Ra-jadewi
Maha-ra-jasa di Daha. Raden Wijaya masih menikah dengan seorang isteri
lagi, kali ini berasal dari Jambi di Sumatera bernama Dara Petak dan
memiliki anak darinya yang diberi nama Kalage(me(t. Seorang perempuan
lain yang juga datang bersama Dara Petak yaitu Dara Jingga, diperisteri
oleh kerabat raja bergelar ‘dewa’ dan memiliki anak bernama Tuhan
Janaka, yang dikemudian hari lebih dikenal sebagai Adhityawarman, raja
kerajaan Malayu di Sumatera. Kedatangan kedua orang perempuan dari Jambi
ini adalah hasil diplomasi persahabatan yaang dilakukan oleh
Ke(rtana-gara kepada raja Malayu di Jambi untuk bersama-sama membendung
pengaruh Kubhilai Khan. Atas dasar rasa persahabatan inilah raja Malayu,
S’rimat Tribhu-wanara-ja Mauliwarmadewa, mengirimkan dua kerabatnya
untuk dinikahkan dengan raja Singhasa-ri. Dari catatan sejarah diketahui
bahwa Dara Jingga tidak betah tinggal di Majapahit dan akhirnya pulang
kembali ke kampung halamannya.
Raden Wijaya wafat pada tahun 1309 digantikan oleh Jayana-gara. Seperti
pada masa akhir pemerintahan ayahnya, masa pemerintahan raja Jayana-gara
banyak dirongrong oleh pemberontakan orang-orang yang sebelumnya
membantu Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit. Perebutan pengaruh
dan penghianatan menyebabkan banyak pahlawan yang berjasa besar akhirnya
dicap sebagai musuh kerajaan. Pada mulanya Jayana-gara juga terpengaruh
oleh hasutan Maha-pati yang menjadi biang keladi perselisihan tersebut,
namun kemudian ia menyadari kesalahan ini dan memerintahkan pengawalnya
untuk menghukum mati orang kepercayaannya itu. Dalam situasi yang
demikian muncul seorang prajurit yang cerdas dan gagah berani bernama
Gajah Mada. Ia muncul sebagai tokoh yang berhasil mamadamkan
pemberontakan Kuti, padahal kedudukannya pada waktu itu hanya berstatus
sebagai pengawal raja (be(ke(l bhayangka-ri). Kemahirannya mengatur
siasat dan berdiplomasi dikemudian hari akan membawa Gajah Mada pada
posisi yang sangat tinggi di jajaran pemerintahan kerajaan Majapahit,
yaitu sebagai Mahamantri kerajaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar